Kadang kala
Yang kita butuhkan
Hanyalah diam
Berhentilah sejenak
Membuat jeda
Pada pikiran yang melelahkan
Hingga akhirnya
Menemukan kebijaksanaan
Untaian Kata
Jumat, 03 April 2020
Kamis, 02 April 2020
Tentang Melupakan
Bagaimana bisa?
Setiap hari dia selalu terlintas
Dalam pikiranku
Membuatku terganggu namun candu
Ah tidak
Ini hanya firasat saja
Waktu akan menjawab
Kemana harus melangkah
Simpan saja rapat-rapat
Perasaan yang sempat kau genggam
Bahkan seharusnya
Kau melupakannya
Bagaimana bisa?
Kau mencintai seseorang
Tanpa ada ikatan yang jelas
Namun pasti terlarang
Meskipun terlambat
Meskipun perlu waktu lama
Meskipun rasa rindu akan sering berdatangan
Meskipun selalu ingin menanyakan kabar
Lupakanlah!
Lepaskanlah!
Kepribadiannya memang baik
Tapi bukan berarti dia baik untukmu
Pasrahkan seluruhnya pada Sang Pemilik
Dia tahu mana yang terbaik untukmu
Pantaskan saja dirimu
Untuk menyambut hal yang pasti
Yaitu...
Kematian
Rabu, 01 April 2020
Kisah Sementara
Empat tahun lalu
Berusaha bangkit
Dari sebuah pilu
Air mata yang jatuh
Seolah menjadi saksi
Akan rasa sakit
Yang begitu menggebu
Langkah demi langkah
Berusaha
Menggapai kisah baru
Melepas kepedihan yang telah lalu
Dua tahun sudah
Menganggap ini adalah kebahagiaan sebenarnya
Berusaha mempertahankannya
Untuk kebahagiaan yang kekal
Namun...
Ternyata
Kisah dan kebahagiaan
Yang dianggap akan selamanya
Hanya terjadi sementara
Melapangkan dada
Melangitkan doa-doa pada Sang Pemilik Hati
Semoga kelak
Air mata yang jatuh
Bukan tentang kesedihan dan kesesakan
Melainkan...
Rasa haru
Karena telah melampauinya
Berusaha bangkit
Dari sebuah pilu
Air mata yang jatuh
Seolah menjadi saksi
Akan rasa sakit
Yang begitu menggebu
Langkah demi langkah
Berusaha
Menggapai kisah baru
Melepas kepedihan yang telah lalu
Dua tahun sudah
Menganggap ini adalah kebahagiaan sebenarnya
Berusaha mempertahankannya
Untuk kebahagiaan yang kekal
Namun...
Ternyata
Kisah dan kebahagiaan
Yang dianggap akan selamanya
Hanya terjadi sementara
Melapangkan dada
Melangitkan doa-doa pada Sang Pemilik Hati
Semoga kelak
Air mata yang jatuh
Bukan tentang kesedihan dan kesesakan
Melainkan...
Rasa haru
Karena telah melampauinya
Kamis, 02 Februari 2017
Teks Negosiasi
Libur Akhir Tahun
Sebelum liburan tiba,
keluarga Alya sudah merencanakan akan berlibur ke Yogyakarta untuk mengunjungi
neneknya dan mereka akan ke pantai yang berada di daerah sana. Mereka berencana
akan ke pantai saat hari ketiga di Yogyakarta. Tetapi, sudah hari keempat di
Yogyakarta mereka belum saja ke pantai. Alya pun bertanya kepada Ayahnya.
“Yah, ini kan sudah hari
keempat disini. Kok belum saja ke pantai sih?” tanya Alya.
“Bagaimana mau ke
pantai, sedangkan nenek perlu bantuan kita untuk berjualan di tokonya.” jawab ayah
dengan tegas.
“Tapi kan Ayah sudah
janji kalau kita akan ke pantai saat hari ketiga disini.” kata Alya lagi.
“Kita akan ke pantai
jika nenek tidak kerepotan di toko. Tidak mungkin kalau nenek ditinggalkan.”
balas ayah.
“Selalu saja Ayah tidak
menepati janji rencana liburan. Kita sudah lama tidak ke pantai, Yah. Kan toko
nenek juga bisa ditutup dulu.” jawab Alya kesal.
“Lihat saja nanti
bagaimana waktunya. Kalau tidak mepet, kita akan kesana. Lagian di pantai ada
apa? Suasananya kan masih begitu-begitu saja.” tanya ayah.
Alya sangat kesal dengan
jawaban Ayahnya itu. Bagaimana tidak, Alya sudah sangat berharap bisa berlibur
ke pantai lagi.
“Alya butuh refreshing
Yah, apalagi Alya sebentar lagi kan UN. Alya ingin sekali menikmati pantai
disini. Ayo kita ke pantai, Yah. ” balas Alya dengan nada merayu.
“Tahun depan kan kita
masih kesini. Sehabis Alya UN, Ayah janji mengajak Alya untuk ke pantai.” kata
ayah dengan cuek.
“Ayah selalu bilang
begitu tetapi akhirnya tetap saja tidak jadi. Rasanya ada yang kurang kalau
kita ke rumah nenek tetapi tidak ke pantai. Kalau begitu, bolehkah Alya pergi
ke pantai berdua dengan kakak? Kakak pun sama seperti Alya. Ingin ke pantai
juga.” jawab Alya pasrah.
Ayah mulai bingung.
Kalau tidak ke pantai, Ayah takut kedua anaknya akan marah. Jika yang ke pantai
hanya kedua anaknya, Ayah juga takut mereka akan kesasar. Sedangkan nenek
sangat butuh bantuan Ayah.
“Kakak kan tidak hafal
jalan ke pantai.” jawab Ayah.
“Kan bisa bertanya ke
warga sekitar.” jawab Alya meyakini ayah.
Daripada terjadi hal
yang tidak diinginkan, Ayah menyetujui permintaan anaknya itu dan akan ke
pantai saat hari terakhir di Yogyakarta.
“Baiklah, lusa kita akan
ke pantai, sekalian pulang ke Bandung. Tetapi Alya janji tidak akan terlalu sering
main dan harus fokus ke ujian. Agar hasilnya tidak mengecewakan.” jawab Ayah.
“Asiik.
Benar ya, Yah? Iya Alya janji tidak akan sering main dan fokus belajar.” jawab
Alya kegirangan.
Oleh : Gabriella Bernadine
Oleh : Gabriella Bernadine
Sabtu, 15 Oktober 2016
Teks Eksposisi
Bahaya Mi Instan
oleh
Gabriella Bernadine
oleh
Gabriella Bernadine
Para ahli
menyimpulkan, untuk orang yang sehat dengan semua fungsi organ yang bekerja
dengan baik, mengonsumsi makanan kemasan, termasuk mi instan, dalam frekuensi
rendah atau dua minggu sekali. Sesekali makan mi instan tidak akan
merugikan, tetapi ketika anda kebablasan akan jadi masalah di kemudian hari.
Pada tahun 2008, terbukti
seorang anak kecil yang terpaksa harus di operasi karena terlalu sering makan
mi instan. Ususnya mengalami pembusukan. Saat operasi pertama selesai, 3hari
setelahnya, ternyata masih ada bagian usus yang bocor dan terpaksa harus di operasi untuk kedua kalinya. Ibunya pun tidak berani memberikan anaknya mi
instan lagi.
Mungkin, ada beberapa
cara agar mi instan tidak terlalu bahaya jika dikonsumsi. Sebaiknya, kuah mi
instan yang ingin digunakan adalah air rebusan kedua. Dan air yang direbus
bersamaan dengan mi nya tidak boleh sedikit pun digunakan. Tambahkan sayuran
segar agar terdapat nutrisi sehingga bergizi seimbang.
Jadi, mi instan memiliki
2 sisi. Sisi baik dan sisi buruk. Sisi baiknya hanya praktis bila anda sedang
lapar. Dan sisi buruknya adalah bahaya bagi kesehatan, dan jika termasuk
penggemar mi instan, mulai dari sekarang harus mencoba porsi wajar atau mencoba
membiasakan diri untuk tidak makan mi terus menerus.
Langganan:
Komentar (Atom)
